Sabtu, 4 Apr 2026
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp
JawaraTangerang.id
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Jendela Dunia
  • Politik
  • Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Gaya Hidup
  • Tangerang
  • Banten
  • Kabupaten Tangerang
  • Bupati Tangerang
  • Pemkab Tangerang
  • Intan Nurul Hikmah
  • mahasiswa
  • Polresta Tangerang
  • DPRD
  • Tigaraksa
JawaraTangerang.idJawaraTangerang.id
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Bisnis
  • Kabar Olahraga
  • Jendela Dunia
  • Gaya Hidup
Search
  • Pages
    • Home
    • Blog Index
    • Contact Us
    • Search Page
    • 404 Page
  • Personalized
    • Read History
  • Categories
    • Bisnis
    • Politik
    • Pemerintahan
    • Nasional
    • Peristiwa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
- Advertisement -
Ad imageAd image
JawaraTangerang.id > Blog > Uncategorized > Soeharto Jadi Pahlawan?, PMII: Sekalian Aja Bikin Museum Lupa Nasional
Uncategorized

Soeharto Jadi Pahlawan?, PMII: Sekalian Aja Bikin Museum Lupa Nasional

PMII Kabupaten Tangerang

Sandi Susanto
Last updated: November 12, 2025 4:14 am
By Sandi Susanto
3 Min Read
SHARE

Tangerang – 11 November 2025  Setiap 10 November, bangsa ini selalu menggelorakan semangat Hari Pahlawan. Tapi tahun ini terasa berbeda. Di tengah penghormatan terhadap mereka yang berjuang demi kemerdekaan, muncul kabar yang sulit dicerna Soeharto diberi gelar pahlawan nasional.

Maka dari itu PMII Kabupaten Tangerang, menggelar diskusi dan menyatakan sikap tegas di sekretariat. Kabar itu bukan hanya janggal, tapi juga ironis. Karena bagaimana mungkin, seorang penguasa yang menekan demokrasi kini akan dimuliakan atas nama bangsa?

Kabar ini seperti “Nasi Padang Resmi Jadi Minuman Tradisional” Kaget, bingung, dan tidak masuk akal. Tapi beginilah Indonesia, logika sering disubsidi perasaan.

Mungkin sekarang gelar pahlawan berfungsi seperti sistem poin reward, semakin lama berkuasa makin banyak poin. Kalau bisa menekan oposisi, bonusnya dobel. Ironisnya, rakyat yang dulu melawan ketidakadilan kini dianggap pengacau, sementara yang menindas malah disanjung.

Seorang kader sempat bertanya, “kalau Soeharto jadi pahlawan, berarti dulu reformasi demo siapa?”

Pertanyaan itu menampar kesadaran kami. Selama 32 tahun, Soeharto membungkam suara rakyat, memburu mahasiswa, dan membredel media. Tapi kini, rezim yang pernah menindas justru diserahi medali kehormatan. Kalau ini bukan satire sejarah, entah apa namanya.

Mungkin sebentar lagi muncul penghargaan baru, “Pahlawan Kestabilan Emosi Bangsa”,

You Might Also Like

Ketua PMII Tangerang: Pilkada Tidak Langsung Berpotensi Mundurkan Demokrasi
PMII ‘Pasang Badan’ untuk Korban Gusur PT LTJ di Cikupa

“Pelindung KKN Tradisional”, atau “Tokoh Inspiratif Pembangunan Ketakutan.”Lucu memang, tapi getirnya terasa nyata.

Selain itu, ada juga yang berpendapat di zaman Soeharto enak, semua serba murah. Salah satu peserta lainnya langsung menjawab “Iya, murah, tapi rakyat nggak bisa beli. Satu desa nonton TV bareng, karena yang punya cuma dua orang.” Begitulah nostalgia sering membungkus luka menjadi kenangan manis.

Negeri ini tampaknya ahli dalam humor gelap, yang salah bisa kelihatan benar asal bicaranya lembut dan sambil senyum. Padahal, hingga kini korban Orde Baru masih berjuang menuntut keadilan. Ironisnya, generasi yang mengingat malah dianggap provokator.

PMII Kabupaten Tangerang menolak gelar pahlawan bagi Soeharto bukan karena dendam, tapi karena kami ingin menjaga akal sehat publik. Kalau orang yang membungkam disebut pahlawan, maka demokrasi hanya tinggal slogan.

Kami menolak bukan untuk membuka luka lama, tapi untuk menjaga agar bangsa ini tidak kehilangan ingatan. Karena ketika pelaku diluhurkan dan korban dilupakan, sejarah berubah jadi lelucon berbahaya.

Jangan-jangan nanti buku sejarah menulis “Gerakan mahasiswa 1998 membantu Soeharto pensiun dengan penuh hormat.” Lucu? Iya. Sedih? Juga iya.

Namun, pemerintah telah memberikan gelar “Pahlawan Nasional” kepada Soeharto, berarti bangsa ini resmi jadi ahli bedah sejarah tingkat dewa bisa mengoperasi masa lalu tanpa anestesi moral.

Kami tidak ingin bangsa ini jatuh dalam rezim baru, rezim nostalgia, yang menipu rakyat dengan romantisme palsu tentang stabilitas semu. Daripada memberi Soeharto gelar pahlawan, lebih baik beri gelar yang lebih jujur:

“Tokoh yang Mengajarkan Kita Bahwa Kekuasaan Tanpa Batas Pasti Tamat.”

Penulis: Miftah Alfarizi

Ketua Cabang PC PMII Kabupaten Tangerang

TAGGED:Mifta Al FariziPMII Kabupaten Tangerang
Previous Article Pemkab Tangerang Wujudkan Pelayanan Prima Melalui Perluasan Layanan Adminduk
Next Article Kawasan Tanpa Rokok di RSUD Tigaraksa: Bersama Wujudkan Udara Bersih dan Lingkungan Sehat
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer
Kepengurusan Baru DPD Golkar Kabupaten Tangerang Fokus Penataan Internal Setahun Ke Depan
Politik
Satreskrim Polresta Tangerang Tangkap Pelaku Pengerusakan Bus, 1 Pengamen Buron
Peristiwa
KLH RI Segel TPA Jatiwaringin Tangerang: Dinilai Parah Cemari Lingkungan
Peristiwa
Menteri LH Bakal Pidanakan Penanggung Jawab TPA Jatiwaringin
Nasional Pemerintahan
KLH RI Segel Gudang Limbah Milik PT Noor Annisa Kemikal
Peristiwa
Kebijakan UNIPI Tangerang Buat Susah, Mahasiswa Sampai Terjerat Pinjol
Regional
PT Power Steel Mandiri dan PT Power Steel Indonesia Disegel KLH
Peristiwa
KLH RI: Pemilik PT Noor Annisa Kemikal Segera Ditahan
Nasional
JawaraTangerang.id

Portal Berita online dengan fokus penyajian peristiwa di wilayah Tangerang Raya dengan prinsip sajian berita faktual, menarik, edukatif dan terpercaya.

INFORMASI

  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • KEJ
  • PEDOMAN MEDIA SIBER

TOP KATEGORI

  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Jendela Dunia
  • Politik
  • Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Gaya Hidup

© 2025 JAWARATANGERANG.ID All Right Reserved.

Welcome to Foxiz
Username or Email Address
Password

Lost your password?