Selasa, 4 Agu 2026
Facebook X-twitter Youtube Whatsapp
JawaraTangerang.id
  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Jendela Dunia
  • Politik
  • Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Gaya Hidup
  • Tangerang
  • Banten
  • Kabupaten Tangerang
  • Intan Nurul Hikmah
  • Pemkab Tangerang
  • Bupati Tangerang
  • DPRD
  • Polresta Tangerang
  • Wakil Bupati Tangerang
  • Tigaraksa
JawaraTangerang.idJawaraTangerang.id
Font ResizerAa
  • Nasional
  • Peristiwa
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Bisnis
  • Kabar Olahraga
  • Jendela Dunia
  • Gaya Hidup
Search
  • Pages
    • Home
    • Blog Index
    • Contact Us
    • Search Page
    • 404 Page
  • Personalized
    • Read History
  • Categories
    • Bisnis
    • Politik
    • Pemerintahan
    • Nasional
    • Peristiwa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
- Advertisement -
Ad imageAd image
JawaraTangerang.id > Blog > Regional > Tiga Bulan Henti Beroperasi Pekerja PT SLI Meradang : Anak Saya Butuh Makan
Regional

Tiga Bulan Henti Beroperasi Pekerja PT SLI Meradang : Anak Saya Butuh Makan

Aditya Gismaya
Last updated: Februari 2, 2026 8:35 am
By Aditya Gismaya
5 Min Read
Foto : Tiga Bulan Henti Operasi Pekerja PT SLI Meradang : Anak Saya Butuh Makan || dok/istimewa
SHARE

TANGERANG – Para pekerja PT Sukses Logam Indonesia (SLI) di kawasan industri Oleg, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, saat ini nasibnya terkatung-katung. Mereka tidak bisa bekerja menyusul dihentikannya aktivitas pabrik peleburan logam tersebut oleh Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid sejak 17 Oktober 2025 lalu.

Salah satu pekerja PT SLI, Ade Majid mengaku, sejak aktivitas pabriknya dihentikan tiga bulan lalu, kehidupan ekonomi keluarganya morat marit. Selama itu juga dia bekerja serabutan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“(Sejak pabrik ditutup) Saya jaga portal bang di kawasan industri, mencari sesuap nasi,” ungkap Ade Majid saat ditemui di kawasan industri Oleg, Kampung Cengkok, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja, Sabtu (31/1/2026). 

Ade Majid mengaku telah berkeluarga dan dikarunia tiga anak. Dia sangat membutuhkan biaya untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari, terutama makanan yang bergizi.

“Biarlah bapaknya makan apa adanya, tapi tidak buat anak saya bang, mereka harus mendapat asupan yang bergizi,” ujarnya.

Pria bertubuh gempal ini mengaku tidak mengerti dengan kebijakan Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid yang tiba-tiba mengeluarkan surat penghentian sementara aktivitas PT SLI, tempatnya menggantungkan hidup bersama sekitar 110-an pekerja lainnya.

You Might Also Like

Apel Hari Santri di Kelapa Dua: Wujud Cinta Tanah Air dan Spirit Pengabdian
Penuh Keakraban, Gita Swarantika Buka Puasa Bersama Warga di Pagedangan
DPRD Soroti Kekerasan Kepada Perempuan dan Anak, Banyak Kasus Mandek Sampai Dihentikan
Gita Swarantika: Momentum Kartini Perkuat Kepemimpinan Perempuan

“Katanya pabrik mencemari lingkungan bang, tapi lingkungan yang mana? Saya tinggal dekat pabrik, tapi gak ada pencemaran, kami sehat-sehat saja,” tutur Ade dengan mimik wajah serius. 

Untuk membuktikan omongannya, Ade yang saat bekerja menjabat sopir forklift, mengajak wartawan untuk melihat kondisi rumahnya yang berdempetan dengan PT SLI. Ade bercerita, sebelum pabriknya ditutup bupati, kala itu dia bersama pekerja lainnya tengah asyik bekerja di bagian produksi.

Tiba-tiba pihak Manajemen PT SLI memerintahkan seluruh pekerja untuk menghentikan kegiatan, mesin produksi kemudian dimatikan.

“Kami tanya ke manajemen ada apa ini, kok tiba-tiba kami diminta berhenti. Kata manajemen pabrik, kita ditutup sama bupati,” ungkap Ade Majid dengan mata menerawang tanpa arah. 

Ade melanjutkan, manajemen kemudian mengumpulkan seluruh pekerja. Mereka diperlihatkan surat dari Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid bernomor 500.16.6.6/10401/X/DLHK/2025 tanggal 17 Oktober 2025 yang berisi tentang penghentian sementara kegiatan produksi.

“Sudah lebih tiga bulan ini bang kami tidak bekerja, tidak punya uang, kerja serabutan aja, kadang manajemen (PT SLI) masih perhatian menyuruh kami bersih-bersih rumput terus dikasih upah, tapi kan gak selamanya begitu bang, Kami ingin bekerja lagi di pabrik ini, anak istri kami butuh makan bang,” ujar Ade Majid dengan nada lirih.

Senada diungkapkan Reza Pramudia, pekerja PT SLI bagian pengawas produksi ini mengaku heran dengan kebijakan bupati yang dinilainya sepihak, dan menghentikan aktivitas pabrik tanpa mempertimbangkan nasib ratusan pekerjanya.

“Yang namanya sementara kan bisa dibuka lagi. Tapi ini sudah tiga bulan pak, tapi belum ada tanda-tanda akan dibuka lagi. Kami ingin bekerja lagi pak, keluarga kami butuh makan, kalau tidak dibuka lagi apakah pak bupati mau menanggung biaya hidup kami?” tuturnya.

Reza juga mengaku kerja serabutan selama tempatnya bekerja ditutup sementara. Namun hasilnya tentu saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.

“Anak saya masih kecil pak, masih butuh susu,” imbuh Reza yang tinggal persis di samping PT SLI Kampung Cengkok RT 03/02, Desa Sentul, Kecamatan Balaraja.

Dia juga mengaku heran dengan isu adanya polusi bau dan kebisingan yang ditimbulkan dari pabrik tempatnya bekerja. Menurut dia, ada pabrik lain yang justru tingkat kebisingannya lebih tinggi namun tidak dipersoalkan.

“Saya yang berhadapan langsung dengan pabrik merasa tidak ada hal-hal yang katanya bisa membahayakan kesehatan,” imbuhnya.

Reza dan Ade serta ratusan pekerja PT SLI lainnya kini hanya bisa berharap Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid berlaku bijak dengan segera mencabut surat penghentian sementara kegiatan produksi PT SLI.

Terlebih, kata Reza, sebentar lagi mereka harus menghadapi bulan Suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, yang tentunya biaya kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari akan semakin meningkat.

“Tolong kami pak bupati, tolong perhatikan nasib kami, kami mohon cabut surat penghentian sementara pabrik tempat kami bekerja,” imbuh mereka hampir berbarengan.

Ketika disinggung apakah ada niat pindah bekerja, para pekerja PT SLI mengaku mereka memiliki keterbatasan baik dari sisi akademik, usia maupun persyaratan lainnya yang kemungkinan tidak bisa diterima perusahaan lain.

“Kalau di SLI mah syaratnya cuma punya KTP Balaraja, apalagi kalau warga Kampung Cengkok, Desa Sentul sekitar pabrik yang ngelamar, dan mau bekerja, pasti diakomodir,” kata Reza.

Pengakuan Reza Pramudia dan Ade Majid diakui Divisi HRD PT SLI, Doni. Dia menyatakan sekitar 75 persen pekerjanya berasal dari warga sekitar pabrik, terutama dari 14 RT dan 3 RW Kampung Cengkok, Desa Sentul.

“Beberapa pekerja ada yang dari luar, tapi mereka ditempatkan sebagai tenaga ahli, selebihnya berasal dari warga sekitar pabrik,” ungkapnya.

TAGGED:BalarajaBantenBupati TangerangSLITangerang
Previous Article Pemanasan Mudik 2026: Satlantas Polresta Tangerang ‘Preteli’ Kelayakan Bus dan Disiplin Pengendara
Next Article Radikalisme Tidak Selalu Soal Kekerasan, Wabup Intan Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter dan Literasi Digital
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer
Kholid Ismail Apresiasi Dedikasi Media Center DPRD Kabupaten Tangerang
Regional
Satreskrim Polresta Tangerang Tangkap Pelaku Pengerusakan Bus, 1 Pengamen Buron
Peristiwa
KLH RI Segel TPA Jatiwaringin Tangerang: Dinilai Parah Cemari Lingkungan
Peristiwa
Menteri LH Bakal Pidanakan Penanggung Jawab TPA Jatiwaringin
Nasional Pemerintahan
KLH RI Segel Gudang Limbah Milik PT Noor Annisa Kemikal
Peristiwa
Kebijakan UNIPI Tangerang Buat Susah, Mahasiswa Sampai Terjerat Pinjol
Regional
PT Power Steel Mandiri dan PT Power Steel Indonesia Disegel KLH
Peristiwa
KLH RI: Pemilik PT Noor Annisa Kemikal Segera Ditahan
Nasional

You May also Like

Regional

SAH! ENDANG KURNIA TERPILIH SEBAGAI KETUA DPD GMNI BANTEN

Januari 12, 2026
Regional

Bupati Tangerang Tinjau RW 11 Villa Tangerang Elok Pasar Kemis Tanggapi Persoalan Banjir

November 14, 2025
Regional

Tragedi Atap Kelas Ambruk di Mauk Tangerang, Dinas Pendidikan Bakal Dipanggil Soal Dugaan Kelalaian

Agustus 14, 2025
Pemerintahan

Bupati dan Wakil Bupati Tangerang Resmikan Halte Bus Sekolah Gratis

Januari 5, 2026
Show More
  • More News:
  • Tangerang
  • Banten
  • Kabupaten Tangerang
  • Intan Nurul Hikmah
  • Pemkab Tangerang
  • Bupati Tangerang
  • DPRD
  • Polresta Tangerang
  • Wakil Bupati Tangerang
  • Tigaraksa
  • mahasiswa
  • Banjir
  • DPRD Kabupaten Tangerang
  • Wakil Bupati
  • Charlie Chandra
  • Gita Swarantika
  • Maesyal Rasyid
  • Pemalsuan Surat Tanah
  • Golkar
  • DLHK
JawaraTangerang.id

Portal Berita online dengan fokus penyajian peristiwa di wilayah Tangerang Raya dengan prinsip sajian berita faktual, menarik, edukatif dan terpercaya.

INFORMASI

  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • KEJ
  • PEDOMAN MEDIA SIBER

TOP KATEGORI

  • Home
  • Nasional
  • Regional
  • Pemerintahan
  • Peristiwa
  • Jendela Dunia
  • Politik
  • Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Gaya Hidup

© 2025 JAWARATANGERANG.ID All Right Reserved.

Welcome to Foxiz
Username or Email Address
Password

Lost your password?