TANGERANG — Inovasi penggunaan pelapis sampah berbahan dasar singkong yang ditawarkan Greenhope, mendapatkan respon positif dari Wakil Menteri (Wamen) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia, Diaz Hendropriyono.
Dukungan atas inovasi dalam mengatasi persoalan sampah iu disampaikan Diaz, saat melakukan kunjungan ke perusahaan teknologi inovasi material berkelanjutan yang memproduksi bioplastik ramah lingkungan dari sari pati singkong tersebut di Cikupa, Kabupaten Tangerang, pada 17 Desember 2025.
Institusinya tegas Diaz, selalu siap merespon dan mendukung inovasi anak bangsa yang bermanfaat bagi penyelesaian permasalahan lingkungan.
“KLH sebenarnya cepat merespon inovasi anak bangsa. Tidak ada alasan untuk menghambatnya setiap inovasi yang baik harus selalu didukung,” ucapnya awak media di lokasi.
Ia menambahkan, bahwa solusi capping (penutupan) TPA yang kini digagas pemerintah merupakan langkah positif untuk mentransformasi TPA dari sistem open dumping menjadi controlled landfill bahkan hingga sanitary landfill, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

“Peraturan terkait sudah ada, yang perlu diperkuat adalah enforcement-nya. TPA open dumping memang tidak boleh lagi beroperasi karena berpotensi menyebabkan longsor, polusi udara, serta emisi gas rumah kaca seperti CO2 dan metana yang memperparah pemanasan global,” jelasnya.
Menurutnya, pemerintah tidak akan hanya mendukung satu solusi saja untuk permasalahan sampah di Indonesia. Berbagai pendekatan seperti Waste-to-Energy (WTE), Refuse Derived Fuel (RDF), daur ulang, hingga produk biodegradable yang mengembalikan bahan ke tanah harus berjalan seiringan, selama berdasarkan kajian ilmiah yang valid.
“Saya bahkan mencari tahu apa yang menjadi hambatan bagi inovasi anak bangsa ini agar bisa kita atasi. Inovasi ini sangat luar biasa,” tandasnya.
Di lokasi, Tommy Tjiptadjaja selaku Co-Founder and CEO Greenhope menjelaskan, bahwa perusahaan yang fokus pada material ramah lingkungan masa depan ini menawarkan media pelapis penutup TPA harian berbahan dasar pati singkong dan bahan nabati lainnya.
Produk ini kata Tommy, dirancang agar mudah terurai dan tidak menghasilkan mikroplastik.
“Pelapis ini hanya memiliki ketebalan 80 mikron, jauh lebih tipis dibanding tanah yang biasanya digunakan dengan ketebalan 10 cm. Harganya juga 1,4 kali lebih ekonomis dan tidak memerlukan alat berat atau penggundulan gunung yang merusak lingkungan,” ujar Tommy.
Selain ramah lingkungan, produk ini juga diklaim memberikan dampak sosial positif. Greenhope telah mendapatkan sertifikasi Fair for Life dan membayar harga premium kepada petani singkong lokal.
“Kita tidak hanya fokus pada keberlanjutan lingkungan, tapi juga ingin mensejahterakan petani. Itu adalah cita-cita kami sebagai wirausaha sosial,” katanya.
Pelapis dari pati singkong ini dirancang untuk terurai dalam waktu sekitar 3 bulan setelah dipasang, sehingga memungkinkan proses biodegradasi sampah berjalan secara alami.
Setelah TPA mencapai kapasitas penuh baru dilakukan penutupan permanen. Saat ini, teknologi ini telah diterapkan sebagian di TPA Pekalongan sejak November 2025.
Tommy juga menambahkan bahwa perusahaan ini memiliki produk lain seperti pembungkus mudah terurai dari bahan nabati dan mineral, yang dapat mempercepat dekomposisi sampah di TPA dan memperpanjang usia penggunaan lahan pembuangan.

