TANGERANG – Ramadhan 1447 Hijriah di Kabupaten Tangerang bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Di bawah kepemimpinan Bupati Moch. Maesyal Rasyid dan Wakil Bupati Intan Nurul Hikmah, bulan suci tahun 2026 ini bertransformasi menjadi panggung besar bagi penguatan sosial, harmoni lintas iman, sekaligus refleksi satu tahun perjalanan pembangunan yang emosional.
Berikut adalah potret geliat sinergi yang mewarnai Bumi Wali di musim Ramadhan kali ini:
1. Investasi Jiwa: Menyiapkan Generasi Emas
Langkah awal Ramadhan dimulai dari Kelurahan Binong, Curug (16/2). Di hadapan 680 anak yatim, Bupati Maesyal Rasyid menegaskan bahwa aset terbesar Tangerang bukanlah gedung pencakar langit, melainkan karakter pemudanya. “Ramadhan adalah laboratorium terbaik untuk membina akhlak. Generasi yang beriman adalah investasi masa depan kita,” ujarnya penuh keyakinan.
2. Harmoni Otoritas: Safari di Masjid Awwabin

Sinergi antara Provinsi dan Kabupaten terpancar saat Bupati mendampingi Gubernur Banten, Andra Soni, dalam Safari Ramadhan di Masjid Jami’ Awwabin, Sepatan (24/2). Tak sekadar silaturahmi, momen ini menjadi bentuk apresiasi nyata pemerintah kepada para penggerak agama—mulai dari bantuan untuk masjid hingga perhatian khusus bagi para marbot.
3. Tarawih Keliling: Menyerap Aspirasi di Sela Ibadah
Melalui program Tarawih Keliling (Tarling), jarak antara pemimpin dan rakyat seolah terkikis. Di Masjid Baitun Nuur, Kresek (25/2), Bupati tidak hanya menyerahkan hibah Rp20 juta untuk kemakmuran masjid, tetapi juga hadir untuk menjamin satu hal: kenyamanan dan keamanan warga dalam beribadah adalah prioritas utama.
4. Pelangi di Klenteng Tri Dharma: Kepedulian Tanpa Sekat

Sabtu (14/3) menjadi hari yang mengharukan di Desa Rancaiyuh, Panongan. Di pelataran Klenteng Tri Dharma Cinta Kasih, Bupati Maesyal bersama tokoh Tionghoa, Koh Edi, membagikan santunan bagi 1.000 anak yatim.
“Di sini kita membuktikan bahwa kepedulian tidak mengenal sekat keyakinan. Kita satu dalam bingkai Pancasila,” ucap Bupati dengan nada bergetar, menegaskan bahwa toleransi di Kabupaten Tangerang bukan sekadar slogan, melainkan tindakan.
5. Kilas Balik Satu Tahun: Lima Janji yang Menjadi Bukti
Tepat pada Selasa (10/3) di Aula Pendopo, forum “Satu Tahun Melangkah Bersama” digelar. Ini bukan sekadar paparan angka kering, melainkan kisah perubahan dari lima janji unggulan duet Maesyal-Intan:
TUNAS (Kesehatan): Sebuah lompatan besar terjadi. Angka stunting yang sempat menghantui di 7,7%, kini menyusut ke 6%. Berkat Universal Health Coverage (UHC), akses kesehatan gratis kini menjadi hak dasar setiap warga.
SETARA (Pendidikan): Tembok biaya sekolah runtuh. Lebih dari 35.000 siswa di sekolah swasta kini mengenyam pendidikan gratis, memastikan mimpi anak-anak Tangerang tetap tegak.
PROSPEK (Ekonomi): Di tengah badai ekonomi global, Tangerang justru tangguh. Pengangguran turun ke angka 5,94%, diperkuat dengan hadirnya 25 Desa Mandiri Pangan.
SELARAS (Infrastruktur): Mobilitas warga kian lancar berkat 20,5 km jalan baru. Lebih dari itu, normalisasi sungai dan stasiun pompa baru menjadi ikhtiar nyata membebaskan warga dari bayang-bayang banjir.
Prestasi ini kian sah dengan predikat “Kabupaten Sangat Inovatif 2025” serta raihan opini WTP 17 kali berturut-turut dari BPK.
6. Meja Diskusi Mahasiswa: Bedah Rapor di Telaga Bestari

Ramadhan juga menjadi ruang dialektika. Di Warung Sunda Telaga Bestari (14/3), Bupati duduk melingkar bersama para aktivis mahasiswa. Di sini, transparansi dijunjung tinggi. Bupati membedah data IPM dan angka harapan hidup yang terus meroket.
Rohmi Sabda Aziz dari Ikatan Mahasiswa Kabupaten Tangerang mengapresiasi keterbukaan ini. Bagi Bupati, mahasiswa adalah “mitra kritis” yang nalar intelektualnya sangat dibutuhkan untuk membangun pondasi Tangerang yang lebih gemilang.
“Satu tahun ini barulah pondasi,” pungkas Maesyal Rasyid dengan optimisme tinggi. “Kami hadir untuk terus melayani, berinovasi, dan membawa Tangerang menuju masa depan yang jauh lebih cemerlang,” tandasnya. (adv)

