TANGERANG — Pemerintah Kabupaten Tangerang mengambil gagasan dari negara kincir angin, Belanda, untuk mengatasi persoalan banjir yang kerap terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Tangerang.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, Rabu 3 Juni 2026. Ia menuturkan, berbagai gagasan lain pun dihasilkan setelah dilaksanakannya Tangerang International Development Seminar 2026 di ICE BSD, pada Senin 25 Mei lalu.
“Banyak kontribusi pemikiran dari para pakar yang disampaikan dalam dua Seminar yang dilaksanakan Bappeda. Tentunya juga yang dapat diimplementasikan di Kabupaten Tangerang, termasuk dari sisi perekonomian masyarakat, menangani kemiskinan dan pengangguran juga dari sisi lingkungan hidup seperti persoalan banjir,” ungkap Erwin.
Lanjut Erwin, pemikiran-pemikiran dari para pakar ini sangat dibutuhkan untuk perencanaan pembangunan daerah. Hal ini karena tidak semua hal dikuasai oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Tangerang.
Dimana dengan diadakannya forum dialog dengan berbagai macam bentuknya mulai dari seminar ataupun forum dialog lain, akan meningkatkan pengetahuan termasuk mendapatkan pemikiran-pemikiran dan mengupgrade kapasitas SDM ASN.
Khusus untuk persoalan banjir dalam tema infrastruktur dan lingkungan hidup, seminar tersebut mengundang Mr. Rob Van Der Most, Blue Deal Netherland seorang pembicara dari negara kincir angin Belanda.
“Kita mengundang Rob Van Der Most, pembicara dari belanda yang memaparkan teknik menangani banjir dengan kondisi Belanda yang berada di bawah permukaan air laut,” ungkapnya.
Dimana dengan kondisi daratan di bawah permukaan air laut, Belanda berhasil menangani persoalan-persoalan perairan yang dihadapi, bahkan berhasil memanfaatkan dengan maksimal.
“Itu yang ingin kita pelajari, siapa tau dari skenario-skenario yang sudah mereka implementasikan di Belanda, ada yang bisa kita implementasikan di Kabupaten Tangerang,” lanjut Erwin.
Keberhasilan Belanda dalam persoalan manajemen sumber daya air lanjutnya, juga disokong oleh sisi finansial yang kuat. Sehingga tidak semua konsep yang digunakan di Belanda, dapat diimplementasikan di Kabupaten Tangerang.
Namun demikian, memang ada sejumlah konsep yang diterapkan Belanda dapat diimplementasikan di wilayah. Seperti Nature Based Solution (NbS) atau solusi berbasis alam dan Hybrid Engineering, sebuah pendekatan rekayasa yang memadukan konstruksi buatan manusia dengan proses alamiah (berbasis ekosistem).
“Kalau dulu Belanda membangun tanggul-tanggul beton untuk menangani abrasi, sekarang pendekatannya dengan cara tanam vegetasi. Kan kalau udah seperti itu masa iya dia bisa kita gak bisa, dari sisi biaya juga lebih murah,” katanya.
Konsep serta pemikiran-pemikiran yang disampaikan dalam setiap seminar ini, akan mendapatkan filtrasi kurang lebih selama satu bulan ke depan.
“Paling dalam satu bulan ke depan kita akan melahirkan yang namanya Valuesibrid. Semacam kertas kebijakan yang nanti kita sampaikan ke pimpinan, terkait ide-ide serta gagasan yang dapat diimplementasikan di Kabupaten Tangerang,” tandasnya.

